Kambing Hitam

Diskusi tentang isu-isu dalam metafora
admin
Site Admin
Posts: 3
Joined: Tue Apr 21, 2015 9:26 am

Kambing Hitam

Postby admin » Wed Apr 22, 2015 3:40 am

Kambing Banyak Bermunculan Disekitar Kita Pada Saat Hari Raya Agama (Idul Adha / Idul Qurban). Dan Kebanyakan Kambing Yang Ada Pada Saat Itu Berwarna Hitam. Anehnya, Kambing-kambing Hitam Itu Beberapa Kali Bermunculan Bukan Pada Waktu Acara Agama Tersebut. Di - Kambing Hitam - kan.

jumanto
Posts: 16
Joined: Wed Apr 22, 2015 2:31 am
Location: Dian Nuswantoro University
Contact:

Re: Kambing Hitam

Postby jumanto » Wed Apr 22, 2015 7:45 am

Kambing hitam [bahasa objek] dan kambing hitam [metabahasa], memang beda. Yang pertama adalah kambing berbulu warna hitam, yang memang bisa diperjualbelikan di hari raya Islam, namun yang kedua, yang disebut metafora, adalah 'pelemparan kesalahan' kepada pihak ketiga. Hati-hati penggunaan 'kambing hitam' sebagai metafora, karena berujung pada pencemaran nama baik. Demikian juga dengan 'kampanye hitam', yang bisa bermakna 'kampanye dengan menggunakan baju atau cat warna hitam' [bahasa objek], atau 'kampanye untuk menjatuhkan citra atau menjelek-jelekkan' orang lain. Demikian. Semoga bermanfaat. Salam.

jumanto
Posts: 16
Joined: Wed Apr 22, 2015 2:31 am
Location: Dian Nuswantoro University
Contact:

Re: Mewaspadai Bahaya Metafora

Postby jumanto » Wed Apr 22, 2015 7:59 am

BAHASA sebagai salah satu sarana berpikir (ilmiah) —di samping logika, matematika, dan statistika— memang unik karena memiliki dua tataran. Bahasa objek, dalam tataran pertama adalah denotasi, yakni bahasa apa adanya. Adapun metabahasa, tataran kedua adalah konotasi, yang mencakupi imajinasi manusia: improvisasi dan kreativitas bahasa yang tidak terbatas. Kamar kecil dalam bahasa objek adalah kamar berukuran kecil, sementara dalam metabahasa bisa berarti toilet dan sejenisnya. Dalam tataran metabahasa inilah, metafora terlahir dan terjadi, dan kita
gunakan untuk berkomunikasi sehari-hari, yakni menyebut sesuatu dengan meminjam properti semantik sesuatu lainnya. Santun atau berbahayakah metafora? Mari cermati di sekitar kita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah menyadari menggunakan metafora. Mengingat metafora bersifat tidak langsung (nonliteral), di sana kita melihat kesantunan. Menyebut kamar kecil misalnya, lebih santun ketimbang toilet, dan minta ’’izin ke belakang’’ terdengar lebih sopan daripada kata apa pun yang mengacu aktivitas di kamar mandi/ WC. Namun ada bahaya yang perlu dicermati andai berkait media massa dan dunia
politik. Pasalnya hal itu melibatkan massa yang membaca, bertanya-tanya, dan mungkin tidak berterima. Mengapa metafora, yang bersifat tak langsung itu, bisa berbahaya? Sebagian pemirsa televisi tentu ingat ketika salah satu tayangan televisi mempertontonkan ada orang takut anjing lalu
dihipnotis dan disugesti supaya sewaktu melihat binatang itu, sama dengan melihat wajah Benyamin Sueb. Tayangan itu langsung membuat marah budayawan yang concernbudaya Betawi, termasuk warga Betawi. Akibatnya, program tayangan itu harus ditutup. Salah satu kandidat Pilpres 2014 pun
disebut kucing kampung oleh lawan politiknya. Ahok, Wagub DKI Jakarta, disebut kutu loncat. Metafora semacam itu menjadi berbahaya karena mencoreng nama baik seseorang atau melukai perasaannya. Apalagi bila nama baik dan perasaan itu milik masyarakat atau massa yang mendukungnya. Menjadi berbahaya bila reputasi dan kehormatan seseorang begitu saja ditempeli properti semantik dari entitas ’’binatang’’, terlebih bila properti semantik dari entitas tersebut negatif. Bagi muslim, anjing tetap ’’negatif’’ meskipun ada yang benar-benar lucu. Kucing bisa positif atau negatif namun tambahan kata kampung membuatnya negatif. Adapun kutu tetap negatif, apalagi ditambah loncat. Ketidaklangsungan
dalam metafora memang demi menjaga kesantunan namun properti semantik dari binatang ’’tertentu’’ mengempaskan kesantunan itu jadi ketidaksantunan (penghinaan, sindiran, menyakiti perasaan, ketidakpercayaan, dan sebagainya).

Kata Tabu
Hal itu berlaku untuk metafora semisal tikus berdasi, buaya darat, lintah darat, kumpul kebo, sapi perah, kupu-kupu malam dan sebagainya. Sifat ontologis metafora yang tidak langsung juga membuat dunia hukum tak berkutik, tidak bisa memprosesnya meskipun ada pencemaran nama baik pihak tertentu. Belum lagi andai dibalut kemelut proses persaingan politik. Namun ada metafora ’’binatang’’ yang masih positif sehingga tetap mengarah pada kesantunan karena lebih mendasarkan ’’reputasi’’ positif dari binatang tersebut, kendati kita harus hati-hati menerapkannya. Semisal mata elang, napas kuda, sepasang merpati, garuda di dada, dan singa perkasa.

Metafora lain yang juga berbahaya adalah ancaman melalui teks ’’Peringatan: Merokok Membunuhmu!’’ Saya menganggap berbahaya karena membunuh adalah kata tabu yang seharusnya ’’tidak santun’’ disebarluaskan. Apalagi dalam jangkauan bacaan, pikiran, dan penalaran anak-anak. Memang peringatan tersebut metafora mengingat ’’pembunuhan’’ itu tidak terjadi secara langsung. Anak-anak hanya akan melihat dan memahami kata ’’membunuh’’ bukan dari proses panjang berpuluh-puluh tahun terpengaruh asap dan racun rokok yang merugikan kesehatan pengisapnya (buruk
bagi kesehatan dan bisa mengakibatkan kematian). Hal itu berbeda dari teks ’’penjahat (bisa) membunuhmu’’ atau ’’binatang buas (dapat) membunuhmu’’. Sebelumnya, bahasa objek yang dipakai adalah ’’Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin’’, yang terdengar lebih santun. Pasalnya, bersifat tak langsung dan pengiriman pesannya lebih efektif mengingat
dipahami oleh perokok dewasa, jauh dari jangkauan pemahaman anak-anak. Konteks yang seharusnya ditabukan dan dikuburkan, sebaiknya jangan dipublikasikan dan disebarluaskan. Peringatan tersebut memang ideologi kesehatan dari pemerintah guna melawan ideologi ajakan merokok dari produsen. Namun berkait konflik ideologi (paradoks), siapa pun yang memasang atau memerintah memasang teks itu, harus mempertimbangkan
pemahaman anak-anak. Artinya, pencantuman teks itu pada kemasan rokok jangan semata-mata bertujuan menakut-nakuti (memperingatkan)
orang dewasa supaya tidak merokok. Mengapa dampak dari sisi bahasa tidak terpikirkan sebelumnya? Padahal metafora yang dianggap biasa dan tidak berbahaya ternyata berisiko menebar bencana budaya. (10)

Sumber: http://epaper.suaramerdeka.com/read/201 ... J14NAS.pdf

harkespan
Posts: 1
Joined: Thu Apr 23, 2015 2:09 am

Re: Mewaspadai Bahaya Metafora

Postby harkespan » Thu Apr 23, 2015 2:31 am

jumanto wrote:BAHASA sebagai salah satu sarana berpikir (ilmiah) —di samping logika, matematika, dan statistika— memang unik karena memiliki dua tataran. Bahasa objek, dalam tataran pertama adalah denotasi, yakni bahasa apa adanya. Adapun metabahasa, tataran kedua adalah konotasi, yang mencakupi imajinasi manusia: improvisasi dan kreativitas bahasa yang tidak terbatas. Kamar kecil dalam bahasa objek adalah kamar berukuran kecil, sementara dalam metabahasa bisa berarti toilet dan sejenisnya. Dalam tataran metabahasa inilah, metafora terlahir dan terjadi, dan kita
gunakan untuk berkomunikasi sehari-hari, yakni menyebut sesuatu dengan meminjam properti semantik sesuatu lainnya. Santun atau berbahayakah metafora? Mari cermati di sekitar kita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah menyadari menggunakan metafora. Mengingat metafora bersifat tidak langsung (nonliteral), di sana kita melihat kesantunan. Menyebut kamar kecil misalnya, lebih santun ketimbang toilet, dan minta ’’izin ke belakang’’ terdengar lebih sopan daripada kata apa pun yang mengacu aktivitas di kamar mandi/ WC. Namun ada bahaya yang perlu dicermati andai berkait media massa dan dunia
politik. Pasalnya hal itu melibatkan massa yang membaca, bertanya-tanya, dan mungkin tidak berterima. Mengapa metafora, yang bersifat tak langsung itu, bisa berbahaya? Sebagian pemirsa televisi tentu ingat ketika salah satu tayangan televisi mempertontonkan ada orang takut anjing lalu
dihipnotis dan disugesti supaya sewaktu melihat binatang itu, sama dengan melihat wajah Benyamin Sueb. Tayangan itu langsung membuat marah budayawan yang concernbudaya Betawi, termasuk warga Betawi. Akibatnya, program tayangan itu harus ditutup. Salah satu kandidat Pilpres 2014 pun
disebut kucing kampung oleh lawan politiknya. Ahok, Wagub DKI Jakarta, disebut kutu loncat. Metafora semacam itu menjadi berbahaya karena mencoreng nama baik seseorang atau melukai perasaannya. Apalagi bila nama baik dan perasaan itu milik masyarakat atau massa yang mendukungnya. Menjadi berbahaya bila reputasi dan kehormatan seseorang begitu saja ditempeli properti semantik dari entitas ’’binatang’’, terlebih bila properti semantik dari entitas tersebut negatif. Bagi muslim, anjing tetap ’’negatif’’ meskipun ada yang benar-benar lucu. Kucing bisa positif atau negatif namun tambahan kata kampung membuatnya negatif. Adapun kutu tetap negatif, apalagi ditambah loncat. Ketidaklangsungan
dalam metafora memang demi menjaga kesantunan namun properti semantik dari binatang ’’tertentu’’ mengempaskan kesantunan itu jadi ketidaksantunan (penghinaan, sindiran, menyakiti perasaan, ketidakpercayaan, dan sebagainya).

Kata Tabu
Hal itu berlaku untuk metafora semisal tikus berdasi, buaya darat, lintah darat, kumpul kebo, sapi perah, kupu-kupu malam dan sebagainya. Sifat ontologis metafora yang tidak langsung juga membuat dunia hukum tak berkutik, tidak bisa memprosesnya meskipun ada pencemaran nama baik pihak tertentu. Belum lagi andai dibalut kemelut proses persaingan politik. Namun ada metafora ’’binatang’’ yang masih positif sehingga tetap mengarah pada kesantunan karena lebih mendasarkan ’’reputasi’’ positif dari binatang tersebut, kendati kita harus hati-hati menerapkannya. Semisal mata elang, napas kuda, sepasang merpati, garuda di dada, dan singa perkasa.

Metafora lain yang juga berbahaya adalah ancaman melalui teks ’’Peringatan: Merokok Membunuhmu!’’ Saya menganggap berbahaya karena membunuh adalah kata tabu yang seharusnya ’’tidak santun’’ disebarluaskan. Apalagi dalam jangkauan bacaan, pikiran, dan penalaran anak-anak. Memang peringatan tersebut metafora mengingat ’’pembunuhan’’ itu tidak terjadi secara langsung. Anak-anak hanya akan melihat dan memahami kata ’’membunuh’’ bukan dari proses panjang berpuluh-puluh tahun terpengaruh asap dan racun rokok yang merugikan kesehatan pengisapnya (buruk
bagi kesehatan dan bisa mengakibatkan kematian). Hal itu berbeda dari teks ’’penjahat (bisa) membunuhmu’’ atau ’’binatang buas (dapat) membunuhmu’’. Sebelumnya, bahasa objek yang dipakai adalah ’’Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin’’, yang terdengar lebih santun. Pasalnya, bersifat tak langsung dan pengiriman pesannya lebih efektif mengingat
dipahami oleh perokok dewasa, jauh dari jangkauan pemahaman anak-anak. Konteks yang seharusnya ditabukan dan dikuburkan, sebaiknya jangan dipublikasikan dan disebarluaskan. Peringatan tersebut memang ideologi kesehatan dari pemerintah guna melawan ideologi ajakan merokok dari produsen. Namun berkait konflik ideologi (paradoks), siapa pun yang memasang atau memerintah memasang teks itu, harus mempertimbangkan
pemahaman anak-anak. Artinya, pencantuman teks itu pada kemasan rokok jangan semata-mata bertujuan menakut-nakuti (memperingatkan)
orang dewasa supaya tidak merokok. Mengapa dampak dari sisi bahasa tidak terpikirkan sebelumnya? Padahal metafora yang dianggap biasa dan tidak berbahaya ternyata berisiko menebar bencana budaya. (10)

Sumber: http://epaper.suaramerdeka.com/read/201 ... J14NAS.pdf


Lalu apakah metafora juga dapat beralih menjadi sarkasme? Bukankah sarkasme akan lebih berbahaya jika ditulis pada media massa karena sarkasme dapat 'menyinggung' pembaca. Saya rasa metafora sebenarnya cocok digunakan 'hanya' pada cerita fiktif yang dapat memperdalam makna cerita tersebut.

jumanto
Posts: 16
Joined: Wed Apr 22, 2015 2:31 am
Location: Dian Nuswantoro University
Contact:

Re: Kambing Hitam

Postby jumanto » Thu Apr 23, 2015 5:12 am

Saudara Harkerpan: terima kasih atas postingnya. Secara intrinsik dan ontologis, metafora yang ada dalam tataran kedua dari bahasa, bersifat tidak langsung. Ungkapan yang tidak langsung, biasanya bersifat santun, bukan akrab. Misalnya: kamar kecil lebih santun daripada toilet; tidak pandai lebih santun daripada bodoh, dsb. Dalam kasus metafora, meski biasanya santun, ternyata ada properti semantik dari metafora tersebut yang harus diperhitungkan dalam kesantunan. Mem-babi buta, misalnya, meski ada metafora di sana, tetap dianggap tidak santun karena ada properti semantik binatang babi di sana. Atau, tikus berdasi, meski metafora, tetap kurang santun karena ada properti semantik binatang tikus di sana. Secara umum, metafora bisa digunakan di media massa, karena dianggap lebih santun daripada bahasa objek, namun properti semantik binatang tertentu harus dihindari atau ekstra hati-hati dalam penggunaannya. Novel berbeda dari media massa, karena novel adalah dunia kreatif hasil pemikiran manusia, jadi imajinasi fiktif terjadi di sana. Sarkasme akan terjadi jika metafora negatif, misalnya serigala berbulu domba, diungkapkan kepada orang yang tidak akrab, termasuk publik pembaca yang tidak dikenal oleh penulis. Namun jika metafora tersebut diungkapkan kepada orang yang akrab, secara tidak serius (bercanda), justru menunjukkan kedekatan atau keakraban di antara mereka. Di dalam linguistik pragmatik, metafora serigala berbulu domba yang pertama, untuk publik atau orang yang tidak akrab, disebut IRONI; sementara, metafora yang sama untuk orang yang akrab, disebut BANTER. Demikian. Semoga bermanfaat. Salam.

riskyan94
Posts: 2
Joined: Sun Jun 21, 2015 10:51 am

Re: Kambing Hitam

Postby riskyan94 » Wed Jun 24, 2015 12:09 pm

Menjadi kambing hitam itu tidak mengenakkan, sebab orang tidak tahu-menahu tentang permasalahan yang sedang terjadi, tetapi tiba-tiba orang tersebut dituduh menjadi penyebab permasalah itu.

anggi dwi putriani
Posts: 3
Joined: Wed Jun 24, 2015 1:26 pm

Re: Kambing Hitam

Postby anggi dwi putriani » Wed Jun 24, 2015 1:40 pm

komentar saya tentang metafora "kambing hitam" adalah orang yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan orang lain dan kambing hitam yang ada di hari raya idul adha adalah kambing yang bermakna hewan yang sebenarnya bukan memiliki arti yang negative.

indra
Posts: 2
Joined: Thu Jun 25, 2015 6:41 am

Re: Kambing Hitam

Postby indra » Thu Jun 25, 2015 1:06 pm

Kambing hitam dalam context hewan(kambing yang berwarna hitam) bukan metafora,tapi jika context nya manusia(orang yang disalahkan) merupakan metafora.
Kambing hitam sering digunakan dalam bahasa indonesia sehari hari.









Indra setiyawan
c11.2010.01182


Return to “Diskusi Metafora”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest

cron